“DINAMIKA MASYARAKAT NELAYAN”
“DINAMIKA MASYARAKAT NELAYAN”
Penulis: Rizki Kakilo
Mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan FPIK UNG
Sektor kelautan dan perikanan Indonesia merupakan salah satu anugrah Tuhan yang harus di syukuri dan di jaga keberadaannya oleh tiap-tiap orang. Mengapa tidak, sektor ini merupakan salah satu sektor pendongkrang perekonomian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berbagai ragam komoditi perikanan Indonesia yang umumnnya diekspor misalnya lobster, tuna, cakalang, kakap merah, kerapu dan masih banyak lagi komoditi perikanan yang muaranya untuk menambah pemasukan keuangan negara.
Berdasarkan data dari Direktur Jendral Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) dalam website resmi Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia bahwa pada tahun 2021 ekspor perikanan Indonesia mencapai USD 4,56 miliar, angka keuangan yang cukup fantastik untuk menyadarkan tiap jiwa bahwa betapa pentingannya kelautan dan perikanan di Indonesia.
Dari uraian di atas kita bisa melihat bahwa potensi sektor kelautan dan perikanan Indonesia sangatlah besar dan hal tersebut merupakan suatu amanah penting dari Tuhan agar manusia-manusia yang melakukan pengelolaan haruslah secara baik agar dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. Namun apakah dengan potensi dan pendapatan Negara dari sektor perikanan dan kelautan yang cukup besar ini sudahlah cukup mensejahterakan masyarakat khususnya masyarakat nelayan? bukankah meraka orang yang pertama yang berpapasan langsung dengan dinamika yang terjadi di lautan? olehnya dalam tulisan ini, penulis akan sedikit mengulas tentang NELAYAN Indonesia.
Konteks Masyarakat Nelayan
Nelayan merupakan masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut. Masyarakat nelayan terdirir atas kategori-kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial, mereka juga memiliki sistem nilai dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari (Kusnadi,2020).
Sedangkan Dalam Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan, pada pasal 1 poin 10 bahwa nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan, dan pada poin 11 bahwa nelayan kecil adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Maka dapat disimpulkan bahwa nelayan ialah orang yang umumnnya berada dikawasan pesisir laut yang dalam kebutuhan kesehariannya mengandalkan hasil laut. Nelayan sendiri terbagi dalam beberapa ketegori yaitu nelayan pemilik (juragan), nelayan penggarap (buruh atau pekerja), nelayan tradisional, nelayan kecil, dan nelayan gendong.
Dinamika Masyarakat Nelayan
Bicara soal dinamika yang dihadapi tentulah sangat banyak dan beragam, dan hal paling mendasar yang umumnya di alami oleh masyarakat nelayan adalah soal tuntutan ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga adalah alasan untuk mereka membawa diri terus mengarungi laut Indonesia dengan membawa peralatan penangkapan ikan masing-masing. Persoalan ekonomi tentunya memang menjadi hal yang umum dirasakan oleh seluruh masyarakat, namun untuk masyarakat nelayan menurut penulis ada tiga dinamika yang umumnnya di rasakan oleh masyarakat nelayan yaitu:
1. Harga jual hasil tangkapan
Harga terbentuk jika terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaraan. Dalam hukum permintaan mengatakan bahwa jika tingkat harga turun maka jumlah barang yang diminta akan meningkat dan sebaliknya semakin naik tingkat harga maka sedikit jumlah barang yang bersedia diminta.
Dinamika masyarakat nelayan terkait harga hasil tangkapan, naik turunnya dalam harga seringkali di rasakan oleh para nelayan, wabil khusus nelayan yang berada di kawasan pelosok yang menjual hasil tangkapannya pada seorang pengumpul. Apalagi ketika harga menurun, hasil tangkapan yang dijual kepada pengumpul mendapat potongan harga lagi dari pengumpul dengan dalih kualitas hasil tangkapan (ikan) kurang bagus. Namun sebagai seseorang yang terus dikejar oleh tuntutan ekonomi para nelayan ini mau tak mau harus menjual hasil tangkapnnya pada pengumpul tersebut.
2. Ilegal fishing
Penangkapan ikan secara ilegal merupakan masalah yang membutuhkan penyelesaian yang serius dari semua pihak. Adanya praktik ilegal fishing jelas memberikan dampak negatif yang besar untuk para nelayan, kategori ilegal fishing terbagi dua yaitu destructive fishing atau penangkapan ikan yang mengakibatkan kerusakan permanen pada habitat ekosistem perairan dan overfishing atau penangkapan ikan yang dilakukan secara berlebihan.
Berbagai dampak negatif dari Ilegal fishing untuk masyarakat nelayan, misalnya berkurangnya hasil tangkapan para nelayan dan semakin jauh lokasi untuk para nelayan menangkap ikan. Hai ini jelas sangat merugikan para nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan saat mereka sudah mengeluarkan modal besar untuk menangkap ikan namun hasil tangkapan yang mereka dapati sangat sedikit bahkan bisa saja tidak ada.
Olehnya konsistensi dari pihak keaamanan perairan sangat diharapkan, dan juga peran pemerintah untuk mengedukasi dan menyusun regulasi untuk menumpas ilegal fishing perlu di seriusi bukan nihil aksi.
3. Distribusi bantuan alat penangkapan
Dalam pemberian bantuan alat penangkapan ikan kepada masyarakat nelayan seringkali ada yang tidak tepat sasaran. Tepat sasaran yang dimaksud adalah dalam pemberian bantuan tersebut harus diberikan kepada orang yang betul-betul sangat membutuhkannya bukan kepada mereka yang hanya dikenal saja. Dan juga dalam pemberian bantuan perikanan seringkali tidak sesuai dengan kebutuahan masyarakat nelayan di lapangan.
Meningkatkan SDM Masyarakat Nelayan
Satu dari sekian banyak masalah yang dihadapi oleh masyarakat pesisir adalah kualitas dari sumber daya manusia (SDM) yang rendah karena tingkat pendidikan mereka umumnnya hanya lulusan SD-SMP bahkan ada yang tidak tamat sekolah. Berbagai alasan pendidikan masyarakat pesisir rendah disebabkan oleh keterbatasan dari ekonomi, kurangannya kesadaran diri untuk pendidikan, dan untuk sekolah yang di tembuh jauh dari tempat mereka tinggal.
Menurut Kusnadi (2022) bahwa tingkat pendidikan yang rendah akan bisa mempengaruhi etos kerja nelayan, visi dan misi bisnis kedepan, serta wawasan yang luas tentang bagaimana mengelola potensi sumber daya ekonomi pesisir secara optimal dan berekelanjutan.
Ketika SDM masyarakat nelayan meningkat, problematika yang umumnnya terjadi pada masyarakat nelayan perlahan-lahan bisa diminimalisir dan cara-cara penangkapan ikan yang dapat merusak lingkungan perairan juga bisa atasi perlahan-lahan. Olehnya kesadaran dari tiap-tiap pribadi dari masyarakat nelayan, peran pemerintah, dan khsusunya pemuda dalam mengedukasi sangat diperlukan untuk potensi kelautan dan perikanan indonesia yang sustainable.
Sekian, Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya.
