Kemana Arah Kapal HMJ MSP?
Organisasi merupakan suatu wadah pengembangan diri untuk orang-orang yang ingin belajar. Di lingkungan perguruan tinggi atau kampus, organisasi bukan hal yang tabu lagi untuk diketahui, baik intra maupun extra kampus organisasi kemahasiswan sangat mudah untuk ditemui. Sesuai dengan pengertiannya organisasi merupakan suatu wadah yang di dalamnnya terdapat orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dan sesuai dengan visi dan misi organisasi tersebut.
Namun dalam tulisan ini saya ingin sedikit menilik organisasi intra kampus, yang sudah banyak memberikan ilmu pengetahuan serta pengalaman yang sangat berguna untuk pengembangan diri saya pribadi. Organisasi yang pertama kali saya kenal di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, organisasi yang membuat saya berpikir dan berimpian untuk menjadi seseorang yang penting di dalam organisasi, organisasi tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan (HMJ MSP).
HMJ MSP merupakan organisasi intra kampus skala jurusan yang di bentuk pada tahun yang sama dengan tahun berdirinya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG, dan HMJ MSP di deklarasikan pada tanggal 9 januari 2015. Mendirikan organisasi bukanlah hal yang mudah, perlu banyak tenaga, pikiran, serta waktu yang dihabiskan, dan hal ini yang dirasakan oleh pendahulu atau pendiri dari Himpunan ini pada Musyawarah Besar Ke-1 HMJ MSP. Dari tahun ke tahun banyak dinamika yang terjadi di tubuh organisasi ini, dan itu merupakan hal yang wajar saja terjadi diseluruh organisasi, namun hal itulah yang menjadi pelajaran bagi setiap kader untuk proses pendewasaan dan pengembangan diri.
Setiap tahun dilakukan rekonstruksi ditubuh HMJ MSP mulai dari perubahan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang menjadi pedoman organisasi serta pemilihan nahkoda baru dengan harapan sebagai proses regenerasi dan membuat organisasi ini menjadi lebih baik lagi untuk kebermanfaatan bagi setiap kadernya dan Fakultas tempat dia bernanung.
“Organisasi layaknya sebuah rumah, dan sebuah rumah bukan hanya
sebagai tempat untuk bernaung, pergi dan kembali saja namun orang-orang yang
berada di dalamnya harus meberikan warna (terobosan) baru, agar rumah tersebut menjadi
tempat yang nyaman bagi orang-orang yang ada di dalamnnya”.
“Anda
masuk organisasi berarti anda siap dengan segala konsekuensinya dan jangan
pernah mengkambinghitamkan perkuliahan untuk urusan organisasi (Z.C
Fachrussyah)”.
13 Januari tahun 2022, Nahkoda baru HMJ MSP terpilih dan merupakan nahkoda ke-8 dari sejak berdirinya Himpunan ini pada tahun 2015 silam. Banyak pertanyaan dipikiran, seperti apa arah baru HMJ MSP? Apakah program kerja yang akan dibawa pembaharu atau jiplakan masa lalu?. Dan Tentunya besar pula harapan seluruh kader kepada nahkoda baru untuk Himpunan tercinta, agar bagaimana nahkoda baru ini bisa membawa kapal HMJ MSP sampai pada pelabuhan yang menjadi tujuan Himpunan, walaupun jelas nantinya akan melewati badai dan gelombang yang akan menerpa 1 tahun dalam pelayarannya.
Menjadi seorang nahkoda/pemimpin bukan hanya sebagai ajang mencari nama agar bisa terkenal, namun menyelesaikan masalah yang terdapat dalam organisasi dan harus meberikan terobosan terbaru untuk bisa lebih membuat organisasi ini bisa lebih baik lagi. Pemimpin juga akan banyak berhadapan dengan berbagai masalah dan penderitaan seperti dalam pepatah kuno Belanda mengatakan bahwa “leiden is lijden” yang artinya “memimpin adalah menderita”, olehnya seorang pemimpin harus siap berdamai dengan penderitaan.
Penderitaan akan selalu bersama Pemimpin HMJ MSP, olehnya pemimpin tersebut jangan sampai miskin ide, gagasan, dan mental baja. Sebab masalah yang akan datang tidak akan selesai dengan wajah rupawan tapi dengan gagasan, dan penderitaan membutuhkan mental baja buka mental sosialita yang ketika ada masalah lari ke stori WA bukan ke Musyawah. Layaknya sebuah tubuh manusia pemimpin adalah otak yang memilki akal, dan bukankah kesitimewaan dari manusia terletak akalnya? Maka dari itu sikap percaya diri (PD) tidak cukup tanpa dibarengi dengan IDE. Tuntutan ini memang sangat kejam, namun itulah resiko menjadi seorang pemimpin, Anda telah memilih memulai maka harus diselesaikan.
Dalam organisasi beban
tanggung jawab tidak boleh hanya dilimpahkan kepada pimpinannya saja namun
peran anggota pun juga diperlukan, tidak hanya pimpinan yang harus belajar baik, namun anggota pun demikian. Anggota harus patuh terhadap apa yang menjadi
keputusan dan jangan takut mengkrtik ketika keputusan tidak selaras dengan
harapan organisasi. Menjadi anggota yang baik juga jangan hanya sekedar
menunggu perintah dan putusan, namun harus ikut terlibat dalam pengambilan
keputusan, maka kontribusi kehadiran dan pemikiran anggota sangat diperlukan. Jika
dalam analogi tubuh pemimpin adalah otak
maka anggota adalah kaki tangan tubuh,
karena percuma jika sudah memikirkan hal yang menakjubkan namun tidak ada yang
menjalankan. Maka dari itu pentingnya kontribusi
dan kolaborasi dalam menciptakan solusi untuk kebaikan organisasi.
Terakhir menyoal
tentang etika pada diri setiap kader HMJ MSP yang hal ini menurut penulis juga
sudah menurun pada marwah Himpunan ini. Dalam
tulisan ini tidak menekankan sikap senioritas, namun persoalan etika sangat
penting untuk tiap-tiap yang berjiwa apalagi ketika dia merupakan anak
organisasi, tentunya hal inilah yang harusnya menjadi pembeda utama antara anak
organisasi dengan yang bukan. Temu sapa dan sapa kabar sudah jarang terlihat
pada diri beberapa orang kader di himpunan ini. Mirisnya sikap kurang menghargai
sesama dan menghormati yang lebih tua terdapat pada beberapa orang anak kader,
yang ketika dilihat seperti tidak pernah saja melewati tahapan kaderisasi pada
Himpunan. Maka dari itu melalui tulisan ini penulis berharap mari bersama
menjadi teladan untuk orang lain dan mari bersama mengembalikan marwah dari
Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan.
Aku
lebih menghargai orang yang beradap dari pada yang berilmu, karena kalau hanya
berilmu iblis lebih pintar daripada manusia (Syaikh Abdul Qodir Jaelani)
Sekian, sampai jumpa
ditulisan selanjutnya.